Tiga Datuk Sukses DuGelar 28 Maret 2026
Karya Sabilul Razak
Literature on Stage: “Tiga Datuk — Adat, Syarak, dan Tauhid” Menghidupkan fejak Dakwah Damai Ulama Nusantara Melatui Seni Pertunjukan
DemiFilm, Salemba, Jakarta- Sebuah karya seni pertunjukan bertajuk “Tiga Datuk: Adat, Syarak, dan Tauhid” siap dipentaskan dalam program Literature on Stage, menghadirkan kisah historis perjalanan tiga ulama Minangkabau—Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Patimang dalam menyebarkan islam di Sulawesi Selatan pada abad ke-17.
Pertunjukan ini merupakan seni pertunjukan kolaborasi fintas etnis yang mempertemukan kekayaan budaya Minangkabau dan Bugis-Makassar dalam satu panggung. Karya ini juga dikembangkan melalui pendekatan transdisipliner, yang mengintegrasikan sejarah, seni pertunjukan, budaya, dan spiritualitas ke dalam satu pengalaman artistik yang utuh. Berbagai elemen seperti teater, tari tradisional, musik etnik,sastra tutur serta v sual multimedia diolah secara terpadu.
Disutradarai oleh Sabilul Razak, pertunjukan ini tidak hanya menyajikan sejarah, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai yang re evan dengan kehidupan masa kin.
Mengangkat tema besar “Adat, Syarak, dan Tauhid”, pertunjukan ini menyoroti bagaimana dakwah {slam di Nusantara dilakukan secara damai melalui pendekatan budaya, d alog, dan keteladanan. Tiga Datuk tdak datang untuk menghapus adat, melainkan menyucikan dan menguatkannya dengan nilainilai tauhid.
Karya ini berangkat dari kegelisahan atas minimnya pengetahuan generasi muda terhadap sejarah penyebaran slam di Indonesia, knususnya peran penting tga Datuk dalam membangun peradaban di Sulawesi Selatan. Melalui medium seni pertunjukan, diharapkan sejarah tersebut dapat dihad rkan secara lebih emosional, kontekstual, dan mudah diakses oleh masyarakat luas, sekaligus memperkuat pemahaman akan keberagaman budaya Nusantara.
Selain pertunjukan utama, acara ini akan dibuka dengan sambutan kebudayaan oleh Yang Mulia Opu Andi Maradang Mackulau, Datu Luwu XL, yang menjadi bagian penting dalam sejarah Islamisasi Sulawesi Selatan. Kehadiran ini menjadi simbol penghubung antara karya seni dengan akar sejarah yang hidup, sekaligus memperkuat dimensi budaya dan spiritual dalam keseluruhan pertunjukan.
Pertunjukan ini didukung oleh para seniman dan aktor, di antaranya Syam Ancoe Amar sebagai Datuk ri Tiro, Ilham Anwar sebagai Datuk ri Patimang, dan Boet Bismar sebagai Datuk ri Bandang. Unsur artistik pertunjukan diperkuat oleh penata musik Sulthan Ngirate, penata gerak Arimbi Budiono, serta penata visual multimedia Rezki Eka Dharmawan.
Pertunjukan telah diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 28 Maret 2026 Waktu: Pukul 19.00 — 22.00 WIB Tempat: Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat
Prograrn ini merupakan bagian dari dukungan Dana Indonesiana — LPDP dalam upaya pemanfaatan dana abadi kebudayaan untuk mendorong penc ptaan karya kreatif inovatif berbasis riset dan budaya.
Selain sebagai tontonan, pertunjukan ini juga diharapkan menjadi ruang cefleksi dan edukasi, memperkuat identitas budaya, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya harmoni antara adat dan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
“Melalui karya ini, kami ingin mengingatkan bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan cara yang santun, menghormati budaya, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ungkap Sabilul Razak, sutradara pertunjukan.
Redaksi ikut menjadi saksi bersama sutradara Bugis asal Sulawesi Selatan, Riri Riza, Ichwan Persada, aktor watak Tengku Rifnu Wikana, pengamat perfilman Yan Widjaja, produser dan kandidat balon BPI periode mendatang, Fauzan Zidni, Habib Agus Arsal Alhabsyi, aktor senior dan juga budayawan, Aspar Paturusi bersama ratusan warga KKSS dan Kemenbud RI.
What's Your Reaction?