BPI Gandeng Eagle Institute Indonesia

Dokumenter & Pengarsipan

Sep 11, 2026 - 10:15
 0  13
BPI Gandeng Eagle Institute Indonesia

DemiFilm, Salemba, Jakarta-  Dalam upaya menyeluruh memperkokoh ekosistem sinema Nasional, Badan Perfiiman Indonesia (BPI) menempuh dua langkah strategis sekaligus selama sepekan terakhir mencakup sektor hulu hinggs hilir mulai dari pembinaan talenta film dokumenter hingga pelestarian warisan perfilman tanah air.

Untuk membenahi hambatan utama pada sektor dokumenter, BPI secara resm bermitra dengan Eagle Institute Indonesia, penyelenggara Eagle Awards Documentary Competrion yang berpengalaman lebih den satu dekade melaturkan sineas dokumenter Kemtraan ini berfokus mengatas: putusnya mata rante: antara tahap penciptaan gagasan, proses produicsi, hingga pensyangan kepada penonton. 

Menurut Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, kolaborasi ini meliputi lima pillar utama. peningkatan Pengembangan dan produksi, penyelarasan standar kompetensi. pertuasan jangkauan distribus: dan festival, pemetaan potens: talenta, hingga penguatan advokas kebgakan. Lebih dan sekadar dukungan formal, kemitraan BPI dan Eagle Institute Indonesia difokuskan untuk Membangun jelur nyata bagi sineas lokal—mulai dan tahap pendampmngan, standardisas) kuaktas industn, hingga pembuke akses ke panggung serta pasar wmmtemasional. 

e ADAM PERF MAN IDONESIA 

Siaran Pers Untuk Segera Ditarbitkan 

Selama ini, kebuntuan’ yang kerap dihadapi pernbuat fim dolumenter berbakat bulan disebabkan oleh minimnya gagasan, melainkan ketiadaan alur yang past: dari ranah produksi menuju ranta: distribusi. Melaiui sinergi mi, kedua pihak berkomitmen memberikan mang pemutaran yang lebih luas bag: karya karya dokumenter tanah air, baik skala nasional maupun internasional, 

Inislatif Pelestarian Arsip Sinema Melalui Diskusi Lintas Sektor Sebagai bagian dari upaya menjaga warisan perfilman indonesia, Badan Perfilman indonesia (BPI) menggelar Kelompok Diskusi Terpumpun (FGD) berstatus “Pengelolaan Koleksi dan Konservas pada 3 September 2026 di Gedung E Kemendikbud, Jakarta Pusat. 

Diskusi ini mempertermukan bermacam macam pemangku kepentingan termasuk lembaga pemerintah, komunitas, Pengelola festival. dan rumah produksi untuk saling berbag: pengalaman. perspekti. serta Membedsh berbagai tantangan nyate dalam perawatan arsip fim nasional, 

Diskusi tersebut menghadirkan empat nerasumber kunck Achmed Dedi Faozi (Arsip Nasional Republik Indonesia/ANRi), Rizka F. Akbar (Koordinator Utama Tim Kerja Pengarsipan Audio VisuavFiim Kemendikbud), Aditya Martodiharjo (SIKLUS), serta Intan Nadya Mauida (Manayer Program JAFF Archive) Berbagai masukan dan tanggapan dari perwaklan Museum Penerangan, TVRI UICS, PFN, dan pars pegist arsp lannya turut memperkaya dinamika pembahasan, 

Kebutuhan Sinergi Kolaboratif dalam Pelestarian Arsip Film. Meskipun berbagai pihak telah secara mandirl menalankan insatit pemelharaan film indonesis, diskusi im menegaskan Pentingnya memperkuat koordinas: dan kolaboras lintas sektor Beberapa fokus utama yang teridentifikas! meliputi: 

Konsolidasi Jaringan: Berbagai upaya pelestarian yang selama ini berjelan secara sektoral peru disatukan dalam jeyanng koordinas: antarlembaga yang sokd. 

Penanganan Kendala Operasionat: Para pemangku kepentingan menghadapi tantangan serupa. mulai dan keterbatasan fasiltas, pendanaan, SOM ahi. hingga kelangkaan perangkat pemutar (playback)  

Standardisasi Kerja: integras: antarorgansasi memertukan keterselarasan terminoiogs, standar metadata. dan alur kere pengarsipan yang seragam. 

Pemanfaatan Digitalisasi: Proses digitalisasi difokuskan untuk memperiuas aksesibiitas dan pengamanan cadangan data, tanpa mengabaikan pemebharaan fissk medium asi, 

Dampak Luas Preservasi: Kegiatan preservasi diharapkan membawa mantaat konkrit bagi publik, pendidikan, penelitian, serta penguatan ekosistem kebudayaan secara berkelanjutan. 

Salah satu gagasan utema yang mencuat dalam diskusi tersebut adalah urgensi pembentukan sebuah hub atau simpul bersama

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow