Indonesia 81; It's Picnic Cinema
Agenda Nobar Berkonsep Layar Tancap
PICNIC CINEMA: KETIKA LAYAR PUTIH JADI RUANG PUBLIK KEMERDEKAAN
Oleh: Arturo GP
Gerbong Manahan, 17 Agustus 2026
Mungkin ini bukan hal baru. Dulu IKJ punya "Sinema Ngamen". Era celluloid ada Bioskop Keliling. 2011 Kemendikbud bahkan pernah beli mobil proyektor layar tancap. Tapi ya itu, programnya mangkrak. Itulah Indonesia: bagus di launching, lupa dirawat.
Tapi 17 Agustus ini, di tengah riuh kemerdekaan ke-80 Indonesia, ada yang beda.
Lola Amaria - artis, sutradara, produser -perempuan cantik dan tangguh bersama timnya menggelar "Picnic Cinema" di Lapangan Lokananta Bloc, Solo. Gratis. Lesehan. Bawa tikar. Nonton bareng, lalu bedah bareng.
Program ini bukan baru. 7 tahun lalu mereka mulai dengan nama "Cinema on the Beach" di pinggir pantai. Titik awalnya 2017 di Labuan Bajo, tempat yang kemarin lalu diguncang gempa Flores 7,7 SR. Dari pasir ke aspal. Dari pantai ke kota. Konsepnya sama: membawa film keluar dari gedung bioskop dan mengembalikannya ke rakyat.
1. FILM YANG DIPUTAR: "EKSIL" - LUKA YANG TIDAK DIAJARKAN
Film yang diputar: "EKSIL", karya Lola Amaria sendiri. Pemenang FFI 2023 Kategori Dokumenter Panjang Terbaik.
Ini film sensitif. Ceritanya tentang para pelajar Indonesia yang dikirim negara ke RRC, Uni Soviet, Eropa Timur era 60-an. Setelah G30S 1965, mereka terjebak. Tak berani pulang. Karena di tanah air terjadi pembantaian dan penangkapan masal terhadap orang-orang yang dituduh berafiliasi PKI.
Selama 32 tahun Orde Baru, sejarah ini dikubur. Di buku pelajaran cuma ada 1 halaman. Di TV cuma ada film propaganda.
Malam itu 500+ penonton, mayoritas Gen-Z / Gen-alpha dan Milenial, duduk melingkar. Diskusi pecah. Ada saksi hidup Eksil yang kini warga Swedia hadir langsung. Banyak yang menahan haru. Banyak yang baru pertama kali dengar.Malam itu mereka menjelma menjadi sosok kritis ,karena dibesarkan oleh lanscape sosial dan politik kontemporer , bukan hanya dari bacaan sejarah dan buku teori .
Pertanyaannya menohok: "Kenapa kita baru tahu sekarang Bu?"
Jawabannya: Karena selama ini kita tidak diberi ruang untuk bertanya.
2. TEORI SINGKAT: LAYAR SEBAGAI RUANG PUBLIK
Jürgen Habermas menyebut Ruang Publik sebagai tempat warga berkumpul, berdiskusi bebas tanpa paksaan negara atau pasar.
Selama ini ruang publik kita dikuasai 2 hal: Mall dan Medsos.
"Picnic Cinema" memecah itu. Ia membuat "Ruang Publik Sementara" - temporary public sphere. Di atas rumput, dengan layar putih dan speaker.
Dalam komunikasi politik, ini disebut "Apresiasi Partisipatoris". Penonton bukan lagi konsumen pasif. Mereka jadi peserta demokrasi. Nonton film = memori kolektif. Diskusi = deliberasi publik.
Inilah yang membantah stigma: "Gen-Z apolitis".
Ternyata mereka tidak anti politik. Mereka hanya anti ceramah. Beri mereka film, beri mereka ruang tanya, mereka akan kritis sendiri.
3. MELAWAN EKONOMI HOROR
Situasi perfilman kita hari ini: 80% bioskop diisi film horor. Bukan karena bangsa ini penakut. Tapi karena investor maunya "cuan cepat". Rumus sederhana: Hantu + Artis TikTok = Balik Modal.
Lola memilih jalan lain. Ia percaya "investasi pemikiran" jauh lebih mahal dan lebih lama untungnya bagi bangsa.
Film "Eksil" tidak akan dapat 1 juta penonton. Tapi 500 orang yang nonton malam itu, bisa jadi 500 orang yang tidak akan percaya hoax sejarah lagi.
Ini yang disebut Pierre Bourdieu sebagai "Modal Kultural". Negara kuat bukan hanya karena PDB. Tapi karena warganya punya ingatan dan empati sejarah.
4. CATATAN KRITIS: SIAPA YANG AKAN MEMBIAYAI INGATAN?
Program seperti "Picnic Cinema" ini seharusnya bukan hanya kerja NGO atau kantong produser.
Negara harus hadir. Pemda harus hadir.
Bioskop keliling 2011 mangkrak karena tidak ada ekosistem. Tidak ada kurator, tidak ada diskusi, tidak ada keberlanjutan.
Padahal model ini bisa dikapitalisasi dengan bersih:
1. CSR Perusahaan sebagai dana budaya
2. Pemda sebagai penyedia ruang publik
3. Komunitas sebagai kurator dan penggerak
Bayangkan kalau tiap 17 Agustus, tiap lapangan di 38 provinsi ada "Picnic Cinema". Kita tidak hanya merayakan kemerdekaan dengan lomba panjat pinang. Tapi juga dengan memerdekakan ingatan bangsa.
PENUTUP
Malam di Lokananta itu membuktikan 3 hal:
1. Gen-Z haus sejarah, asal dikemas jujur dan tidak menggurui.
2. Film bisa jadi senjata paling halus untuk melawan amnesia kolektif.
3. Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat berani nonton, bertanya, dan berdebat tentang masa lalunya sendiri.
Terima kasih Lola dan tim.
Terima kasih untuk yang masih percaya bahwa sinema bukan cuma soal box office.
Ayo Bung Sinema Indonesia!
Turun ke jalan. Gelar tikar. Nyalakan proyektor. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menonton lukanya sendiri.
AGP
What's Your Reaction?