FFB 2024 Sukses Gemilang!
FFB 2024 Sukses Gemilang!
DemiFilm, Soreang Bandung, – FESTIVAL FILM BANDUNG memasuki usia ke-37 bukanlah sebuah angka tanpa kehadiran karya para sineas Indonesia yang mempunyai gagasan, ide yang tak bisa dinafikan dengan surutnya rasa kebangsaan Indonesia yang kian waktu secara kasat mata dari periode ke periode terasa sekali perkembangannya menuju pada langkah fenomena ‘gaya’ (baca: kuantitas). Sehingga beberapa sineas film yang sudah berpijak pada kekuatan-kekuatan nilai kebangsaan makin terseret pada ‘kesunyian’ apresiasi.
Merujuk pada tulisan di majalah Khusus Festival Film Bandung ke 37 tahun 2024 ini yang ditulis oleh Ari Nurtanio mengenai Ketika Lagu Anak-Anak Dijadikan Jimat bahwa film horor yang rujukannya sebuah lagu anak-anak adalah merupakan ‘gaya’ hanya karena lagu anak-anak sudah sangat dikenal secara umum di indonesia dan dijadikan soundtrack film horor, padahal lagu anak-anak tersebut diciptakan sebagai media persentuhan sosial dan interaksi diantara anak-anak yang sedang bermain; gembira. “Sehingga rasa—rasanya aneh ketika lagu itu menjadi lagu pemanggil setan”, ungkap Ari Nurtanio dalam tulisannya.
Lain lagi kalau merujuk pada tulisan oleh Agustina K. Dewi masih dalam majalah khusus Festival Film Bandung ini, yaitu “Mungkinkah Art Horor Menjadi Diksi Sinematik Film Horor Indonesia?.” Dalam artikel tersebut yang ditawarkan adalah potensi film art horror di Indonesia sangat besar—sebuah diksi (gaya ungkap) sinematik yang bukan terdampak ‘latah’ belaka.
Dalam tradisi seni dan budaya Indonesia kaya akan simbolisme, mitologi, dan cerita rakyat yang menyeramkan, diasumsikan ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya subgenre ini di indonesia antara lain: Kekayaan Folkior dan Mitos Lokal, Eksplorasi Kecemasan Sosial dan Budaya, serta Visual dan Sinematografi yang Kuat.
Selaras dengan tema Festival Film Bandung ke-37 tahun 2024, yaitu Film Indonesia Berwawasan Kebengsaan. Pertanyaannya adalah apakah karya para sineas Indonesia sudah menyentuh wawasan kebangsaan? Jawabnya; Sudah ada. Ukurannya apakah penontonnya mencapai jutaan atau hanya puluhan atau ratus ribu? Apakah para produser masih menyentuh wawasan kebangsaan? Masih ada. Lalu?!.
Catatan Film Nasional 2023-2024
PROSES berjalannya Regu Pengamat FFB dalam mengapresiasi karya Film Indonesia, Serial Web dan Serial Televisi serta Film Impor setiap tahunnya dapat berjalan lancar tak luput dari support beberapa pihak, yaitu Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Bank BJB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung.
Sejak 3 tahun falu (2021) pengamatan film nasional bukan hanya untuk film yang diputar di bioskop-bioskop (Bandung) saja, tapi juga untuk film yang diputar di tayangantayangan OTT (Over The Top) atau streaming. Tak bisa dipungkiri, memang, tayangan OTT
telah menjadi bagian dari media penayangan film selain di bioskop, bukan hanya berperan di masa pandemi saja. Tentu hal ini harus kami sikapi dengan apresiasi yang tinggi.
Menurut catatan kami, untuk tahun 2023-2024 (terhitung 1 September 2023 hingga 31 Agustus 2024), jumlah film yang kami amati ada 138 judul, dengan rincian 114 film bioskop, dan 24 film OTT. Tentu ini menaik jika dibandingkan dengan produksi di masa pandemi, di mana untuk tahun 2020-2021 “hanya” menghasilkan 90 judul (bioskop 25 film, OTT 65 film), di tahun 2021-2022 menaik jadi 121 judul (72 film bioskop, 49 film OTT), serta di tahun 2022-2023 lebih melonjak lagi menjadi 128 judul (101 film bioskop, 27 film OTT).
Melonjaknya produksi film untuk bioskop 3 tahun belakangan ini tidak serta merta diikuti oleh kenaikan produksi film untuk tayangan OTT. Justru tayangan OTT di masa kini kian menurun mengingat bioskop kembali berperan aktif dalam menayangkan film. Hanya di tahun 2024 ini, tayangan OTT sedikit menaik (27 judul) dibanding tahun lalu yang menghasilkan 24 judul.
Dari 138 judul film nasional tahun ini, kami telah membagi pengamatan menjadi empat periode waktu pengamatan. Setiap tiga bulan sejak September tahun lalu, diadakan diskusi (baik langsung atau dalam grup WA/medsos) dalam rangka mengusulkan film-film yang akan diamati lebih lanjut.
Setiap periode selalu ada film yang disepakati untuk diamati lebih lanjut. Pokoknya setiap periode ada yang dipilih untuk diamati lebih lanjut. Setiap periode tersebut setidaknya ada 20 judul lebih yang kemudian kami setujui bersama. Dari 20 film inilah kami mengambil calon nomine untuk kategori yang akan diberi penghargaan terpuji.
Untuk tahun ini, dan seperti tahun lalu juga, genre film Indonesia yang kami nilai/amati, sangatlah beragam. Ada drama percintaan, keluarga, dan perselingkuhan, ada komedi, dan yang paling dominan -tentu saja, masih tetap—horor yang sering mencampurkan unsur budaya lokal dengan mitos dan mistik. Bahkan ada di antaranya film horor yang bercampur dengan genre komedi. Namun demikian, nilai keindonesiaan tetap mencuat di dalam masing-masing genre tersebut, terutama genre horor. Di sisi lain, ada beberapa pula yang me-remoke film-film luar, dan beberapa di antaranya berhasil memindahkannya ke dalam kultur kita.
Karena keberagaman tema, sambil tetap berpijak pada keindonesiaan itulah, diharap film Indonesia memberikan wawasan kebangsaan bagi penontonnya. Maka sudah sepatutnyalah Festival Film Bandung kali ini mengusung tema “Film Indonesia Berwawasan Kebangsaan”.
Catatan Penjurian Serial Web Festival Film Bandung 2024
SELAMA tiga tahun berturut-turut yakni pada FFB 2021, 2022, dan 2023, empat besar platform OTT yang menyumbang serial web terbanyak dihuni oleh Genflix, WeTV, Vision+, dan Vidio. Keempat platform ini konsisten berada di top 4, hanya saja kadang berganti posisi. Sementara pada tahun keempat, posisi WeTV harus tergantikan oleh Prime Video yang kali ini menempati posisi keempat dengan persentase sebesar 11,29% dari 62 total serial web yang diamati dalam rentang 1 September 2023 hingga 31 Agustus 2024. Vidio masih menjadi jawara dengan persentase sebesar 24,19%. Disusul kemudian oleh Vision+ di posisi kedua dan Genflix di posisi ketiga.
Secara jumlah, serial web di periode FFB 2024 ini adalah yang paling sedikit jika dibandingkan dengan tiga periode sebelumnya. Namun sebaran platformnya cukup merata dan mulai ada platform lain yang juga memproduksi serial web. Semisal Bioskop Online yang biasanya menayangkan film bioskop versi extended dan film orisinal mereka, periode kali ini
menyumbang satu serial orisinal lewat judul Jin Khanis. Ada juga Catchplay+ yang menyumbang Losmen Melati the Series yang merupakan cerita lanjutan dari film panjang berjudul sama.
Catatan Penjurian Serial Televisi Festival Film Bandung 2024
MEMBAHAS kondisi terkini serial televisi (sinetron), tidak akan lepas dari dominasi dua stasiun televisi nasional, RCT| dan SCTV. Selama periode pengamatan FFB 2024, RCTI menjadi penyumbang terbesar dengan 14 judul. Disusul oleh SCTV dengan 10 judul. Sisanya adalah MNCTV sebanyak 3 judul, indosiar dan Moji masing-masing 2 judul, dan Mentari TV sebanyak 1 judul. Jadi, total serial televisi yang diamati berjumlah 32 judul.
Pengamatan serial televisi tetap berjalan sepanjang periode meskipun pada tahun lalu berujung pada tidak menghasilkan nominasi. Dan pada tahun ini kami memberikan nominasi pada kategori keaktoran yakni Pemeran Pria Terpuji dan Pemeran Wanita Terpuji. Kami melihat banyak aktor serial televisi yang tetap menyuguhkan performa terbaiknya. Tidak hanya dari aktor muda pendatang baru, tapi juga para aktor yang sudah bermain di banyak judul sinetron. Terlebih bisa dikatakan persaingan aktor di serial televisi lebih ketat dan kompetitif dibandingkan dengan kategori lain semisal serial web.
Di serial televisi, kami tidak (lagi) memisahkan antara pemeran utama dan pemeran pembantu. Salah satu pertimbangannya adalah kejelasan jumlah episode sinetron yang masih belum diketahui sedari awal, memungkinkan banyak terjadi perubahan cerita. Semisal ada aktor yang semula ditempatkan di pemeran utama, di episode yang kesekian, bisa saja karakternya hilang dan tidak lagi jadi pemeran utama.
Dalam mengamati keaktoran atau seni peran, salah satu parameter utama yang jadi
penilaian adalah soal teori penjelmaan. Maksudnya, seorang aktor harus bisa melebur ke dalam perannya bukan hanya sekadar pura-pura atau memainkan peran semata. Memang, mengamati karakter di sinetron itu ya gampang gampang susah. Kami mengamati puluhan aktor dari satu episode ke episode lainnya. Mencatat dan memperhatikan konsistensi peran yang mereka lakukan. Ada kalanya karakterisasi karakter di sinetron yang tidak terlalu spesifik, membuat permainan satu peran dengan peran lainnya nyaris terlihat sama dan kurang menjadi unik.
What's Your Reaction?