Sebuah Catatan Dari Sahabat

Sebuah Catatan Dari Sahabat

May 19, 2025 - 11:09
Aug 1, 2025 - 12:03
 0  36
Sebuah Catatan Dari Sahabat

Yudhistira ANM Massardi. Sepuluh hari di tahun 2018 pernah saya bersamanya di Medan, di kamar hotel yang sama, jalan-jalan kesana kemari, antara lain bercengkerama dengan penari putri keturunan bangsawan – juga pemilik sanggar dan meseum keluarga. Beberapa bulan sesudahnya, Yudhistira mengirim draft novel. Judulnya Penari Dari Serdang. Tahun 2019 novel itu terbit. Itulah novel Yudhis yang menyiratkan menyalanya kembali gairah menulis novel setelah kurang lebih 35 tahun sejak novel sebelumnya Arjuna Wiwahaha (1984).

Dalam banyak bagian dari novel itu, dia seperti menjadikan pengalaman sepuluh hari di Medan itu sebagai bingkai ceritanya. Ditambah pengalaman-pengalaman sesudahnya, ketika jumpa lagi dengan Sang Penari Putri Bangsawan itu di Jakarta. Sang Penari Putri Bangsawan sempat saya ajak singgah di Kantor Kine Klub Gedung Film. Saya juga lama bercengkerama dengannya, suatu hari ketika dia menjelang berangkat ke Italia sebagai duta kesenian; tentu sambil ngrasani Yudhis yang sangat bersemangat menulis novel – yang kemudian berjudul Penari Dari Serdang itu.

Novel itu memuat kisah asmara, membingkai gagasan tentang Revitalisasi Kebudayaan Melayu. Beberapa hari sepulang dari Medan itu, Yudhis mengirim proposal tebal ke saya untuk sebuah ide penyelenggaraan festival mengenai Revitalisasi Budaya Melayu. “Kamu kan masih muda, Lis. Bisa mewujudkan ini. Akalmu banyak.”
Percakapan kami tak melulu soal sastra, kesenian, kebudayaan. Kebetulan anaknya dan anak saya sama-sama kuliah di Binus University. “Lulusan dari kampus itu yang akan memiliki Indonesia ke depan,” katanya.
“Sepertinya begitu,” saya menimpali. “Di kelas anak saya, dari 35 mahasiswa, pribuminya lima orang, yang beragama Islam cuma anak saya. Kalau mereka ngumpul di rumah, bahasanya campur-campur, Indonesia, Mandarin, Inggris ….”
Malam ini (pukul 21:12, 2 April 2024) saya mendapat kabar Yudhis meninggal dunia. Saya menulis catatan itu, teringat pertemanan saya dengannya, lelaki yang perlahan, kalem, dan lirih itu; kontras dengan saya yang kalau bicara seperti nelayan mengatasi debur ombak. Innalillahi wa inna illaihi rojiun.

Saya lebih dulu mengenali karyanya, sajak Rudy Jalak Gugat (1982) dan Sajak Sikat Gigi (1983) melalui sebuah buku pelajaran kesusasteraan untuk SD-SMP. Berbangga juga saya kemudian mengenal orangnya.

Tatkala beberapa kali saya menjadi redaktur majalah, kepada Yudhis saya sering minta Cerpen untuk isi majalah yang saya asuh. Beda dengan pembawaanya yang lirih, Cerpen-cerpennya cenderung lincah, sedikit nakal. Ada Cerpen yang tokohnya menggunakan nama saya segala. Saya lupa judulnya. Suatu saat saya menjadi panitia Festival Film Indonesia, Yudhis saya ajak agar ikut menjadi salah satu juri. Dia kan juga orang film, pernah kuliah di Jurusan Sinematografi LPKJ.

Novel pertamanya Arjuna Mencari Cinta (1977) sempat disinetronkan oleh rumah produksi yang dikepalai Kemala Atmojo (sekarang sudah almarhum juga). Ketika Arjuna Mencari Cinta dijadikan lagu oleh Dhani Dewa 19, Yudhis sempat mengajukan tuntutan mengenai sengketa hak cipta. Saya ikut mendampingi, mengantarnya bertemu dengan polisi-polisi di Polda Metro Jaya.

Dalam perlahan, kalem, dan lirih, Yudhis tekun bersama istrinya, Siska, merintis dan mewujudkan sekolah untuk kaum dhuafa – dimulai dari teras rumahnya di Bekasi. Namanya Batutis. “Kependekan dari Baca Tulis Gratis,” katanya. ”Alhamdulillah sekarang selain TK, sudah juga membuka SD. Tapi tembok gedungnya belum kulitan. Masih kelihatan bata merahnya.”
Sekolah itu lengkapnya bernama Batutis Al-Ilmi. Itu akan menjadi amal jariahnya yang tidak terputus. Seperti juga karya-karya sastranya. Seperti juga ketiga anak yang ditinggalkannya. Khusnul khotimah.

Duka saya sampaikan kepada keluarganya, kepada sobat Noorca M.Massardi, Adhie M.Massardi & Antho M.Massardi.

(Akhlis Suryapati, 2 April 2024)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow