Budaya Sinema Inklusi 2025 Disambut Gempita Pelajar SLB

Selain SLBN 1 & 2 Juga SMAN 2 Gianyar bersama SMA Muhamadiyah Denpasar

Aug 14, 2025 - 14:31
Aug 15, 2025 - 06:32
 0  69
Budaya Sinema Inklusi 2025 Disambut Gempita Pelajar SLB

Tim B3S - Bincang Bincang Budaya Inklusi - Filmmaker Goes To School di Kota Bali Denpasar bertajuk Film Indonesia Untuk Semua.

DemiFilm, Hotel B ImamBonjol, Bali Denpasar-Diksi Inklusi meresap bercampur tawa dan senyum ceria di antara para pelajar SLBN 1 & 2 dari 7 hambatan disabilitas dari tuna netra, tuna rungu, grahita, autis dan lainnya.

Direktur Film, Musik dan Seni-FMS Kementerian Kebudayaan RI, DR. Syaifullah Agam antusias dan sumringah, kemarin Rabu (13/8) di SLBN 1 melihat sendiri para tuna wicara dan autis langsung berbicara dan mengajukan pertanyaan.

"Kami sedang mempersiapkan Buku Panduan Inklusi Perfilman Indonesia yang saat sedang disusun oleh tim penulis untuk pelajar, komunitas dan santri disabilitas dan difabel dapat berkiprah di Industri perfilman tanpa stigma dan pembatasan, tentu saja dengan standar kompetensi sesuai industri, " paparnya lugas.

Mereka juga mau mengenali apa itu dokumenter dan film pendek? Bagaimana cara membuat film? Mas Erwin Arnada sang sutradara juga produser dari era menjadi jurnalis sudah piawai dalam dunia tulis menulis sehingga momen berhadapan langsung dengan para pelajar disabilitas berujung pada asa untuk menjawab semua pertanyaan para peserta dari level kelas 10 sampai 12.

"Dokumenter atau dokudrama bisa jadi terinspirasi pada realitas keseharian tapi kadang kala ada kluster fiksi agar lebih punya rasa sehingga bikin film harus punya premis jelas dengan berbagai plot twist. Film harus kuat dari ide cerita sehingga penulisan skenario harus serius dan beriris pada senyawa ide/inspirasi yang akan disampakan," sembari menunjuk pdF yang sudah ia persiapkan.

Short Film atau Feature dari berdurasi singkat 5menit sampai untuk konsumsi bioskop barpatokan skenario dengan research yang mumpuni. Kalau fiksi berimajinasi pada narasi yang terkadang fantasi dan dramatis tapi dokumenter harus 'setia' pada fakta yang betul-betul terjadi.

Mas M.Yusuf pun yang juga kagum dengan karya Jejak Dedari mas Erwin Arnada secara etnograf berpijak pada kampung disabilitas di Bali dengan bintang Reza Rahadian dan Alm Alex Komang.

Segendang Sepenarian saat di SLB 2, mas M.Yusuf yang sudah mengentaskan short movie berjudul Melati menjadikan Komang disabilitas bisa berakting seolah-olah seorang violist profesional. 

"Saya akan kembali lagi ke SLBN 1 dan 2 juga SMAN 2 Gianyar serta sekolahku dulu SMA Muhammadiyah untuk bikin film layar kebar dengan pemain 4 sekolah tersebut. Tidak berhenti film pendek Melati. Film Indonesia untuk semua, " ucapnya dihadapan para pelajar almamaternya SMA Muhammadiyah Denpasar.

Tentu saja disambut riuh 4 sekolah saat B3S Filmmaker Goes to School di Denpasar Bali hari Kamis, (14/8) tadi siang. Yan Widjaya selaku Ketua Umum Yayasan Demi Film Indonesia disingkat YDFI mengakui fasilitasi Kemenbud Dit FMS dapat berlanjut ke kota lain masih suasana bulan kemerdekaan Agustus ini.

"Film Indonesia untuk semua, artinya mereka para pelajar disabilitas dengan beragam hambatannya punya kesempatan yang sama, dari sutradara, penulis skenario, doP, Make Up Artist, Penata Musik dan masih banyak profesi lainnya, " pintanya sembari bersendagurau dengan para pelajar.

Kak Gufri dari Dit FMS Kemenbud RI menandaskan acara masih berlanjut Jumat (15/8) di bioskop Cinepolis dari pelajar disabilitas dan lainnya nonton bareng film karya Benni Setiawan berjudul Panggil Aku Ayah. Ia optimis saat memberikan Piagam Penghargaan kepada 4 sekolah, RRI Pro 1Denpasar dan juga mas Erwin dan mas M.Yusuf, B3S Filmmaker Goes to School masih 5 kota lainnya dengan kota Bantul-Jogja-Gunung Kidul di akhir Agustus 25-28 tahun 2025.

"Saya sebagai guru dan pembina pelajar disabilitas sangat berterima kasih ada dua sutradara film mau berbagi ilmu dengan YDFI dan Kementerian Kebudayaan plus ada snack dari OT Grup membahagiakan pelajar," ucap kak Made Guru SLBN 2 ke redaksi sembari menggunakan bahasa Isyarat ke Komang pemeran Melati.

Acara yang difasilitasi Dit FMS Kemenbud RI berlanjut ke Kota Bantul-Jogja-Gunung Kidul lalu Bone SulSel, Kediri, Manado dan Medan di tahun 2025 ini.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow