Narasi Sang Pemuja Arturo GP Untuk Film Empat Musim Pertiwi
Telaah Kritis dan Pesan Dari Sahabat
Catatan Pagi AGP
Membaca Kemarahan Gen Milenial Pada Karya Film "Empat Musim Pertiwi"
Kita tahu kata Pertiwi secara semiotika ditujukan untuk apa: Ibu Bumi. Lalu dilanjutkan pada 4 Musim... sebuah angka sial dalam kepercayaan Jawa, dan musim sebagai siklus. Pertanyaan dalam otak menjadi teror selama menonton film Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini.
Saya mengenal Kamila sejak debutnya The Mirror Never Lies / Laut Bercermin (2011) - saya bagian dari timnya. Lalu Sekala Niskala / The Seen and Unseen (2017) saya membantu melatih pemainnya, dari bicara anak-anak masuk ke dunia perempuan dewasa Yuni (2021) dan Nana / Before, Now & Then (2022) - bicara perempuan tertindas dan perempuan terkungkung patriarki.
Kini film kelimanya, Empat Musim Pertiwi (2026), proyek yang memakan waktu 9 tahun, diproduksi Forka Films dengan 7 negara - Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, Singapura - dan baru saja world premiere di Toronto International Film Festival 11 September 2026, dan kini menjadi wakil resmi Indonesia ke Oscar.
Film adalah dunia ekspresi. Media menyampaikan sesuatu dari personal si penciptanya untuk penontonnya, untuk publiknya. Bukan sekedar mencari investasi ekonomi tapi investasi pemikiran.
1. Film Sebagai Karya Auteur
Inilah yang Andre Bazin dan Francois Truffaut sebut film Auteur di majalah Cahiers du Cinema (1951). Bagaimana sutradara punya camera-stylo - kamera sebagai pena - punya statement. Truffaut bilang: tidak ada film baik dan buruk, yang ada hanya sutradara baik dan buruk.
Kamila adalah auteur feminis Indonesia paling konsisten. Jika di Yuni dia bicara mitos keperawanan, di Nana bicara trauma perempuan di pusaran politik 1965, maka di Empat Musim Pertiwi dia sedang marah.
Marah pada dunia kuasa patriarki terhadap perempuan, pada politik koruptif, pada masyarakat dengan logika mistik ketimbang agama yang holistik dan dogmatik, lebih memilih rasionalitas saintifik ruang angkasa yang kontemporer.
2. Membaca Semiologinya
Film ini tidak bisa dilihat hanya sebagai tontonan. Kita dituntut membaca dengan tepat, menerjemahkan semiotika dari bahasa gambar, antara teks, konteks, dan interteks. Seperti kata Umberto Eco: “isi teks mesti dibaca dengan makna dan kandungan tafsirnya.”
Secara struktural, Empat Musim Pertiwi adalah film hibrida yang sengaja membingungkan:
• Lapisan pertama: Thriller - ex pembunuh pulang kampung mencari balas.
• Lapisan kedua: Mistis-Horor - ruang gaib kampung.
• Lapisan ketiga: Sci-fi - Alien / UFO.
Kenapa UFO? Ini bukan tempelan. Ini adalah bentuk Realisme Formalis dari teori film Rusia - bahwa realitas harus di-defamiliarisasi. Ketika logika mistik kampung sudah buntu menjelaskan penindasan perempuan, Kamila menawarkan rasionalitas lain yang sama-sama asing: angkasa luar. UFO adalah metafora: sesuatu yang dianggap gila dan abnormal oleh tatanan, sama seperti perempuan yang dianggap abnormal.
Tokoh Pertiwi adalah tanda (signifier). Empat musim adalah penanda siklus kekerasan: musim tanam, musim panen, musim paceklik, musim mati - yang dialami tubuh perempuan di bawah hegemoni patriarki.
3. Kenapa Gen Milenial Harus Menonton?
Sutradara cerdas belum tentu bisa diapresiasi penonton yang masih menyukai mistik horor jumpscare. Ini fenomena beda. Laura Mulvey dalam Visual Pleasure and Narrative Cinema menyebut male gaze - sinema kita masih dikuasai cara pandang laki-laki yang menjadikan perempuan objek horor.
Kebutuhan penonton, apresiasi, pemikiran yang bersinergi bisa membuat ekosistem perfilman kita menjadi ruang diskusi maupun industri yang sehat.
Mestinya film ini ditonton Gen-Milenial dan Gen Z, karena kesamaan cara pandang yang sama dengan penciptanya. Mereka hidup di era ketika patriarki dipertanyakan, ketika bumi dipertanyakan, ketika kebenaran dipertanyakan - antara klenik atau sains.
Kalau Empat Musim Pertiwi kurang penonton, artinya ada yang salah di cara kita mendidik masyarakat, mengenalkan budaya, mengapresiasi sinema sebagai bagian penting di peradaban industri 5.0 saat ini.
Film ditutup dengan menambah hitungan jadi lima... yang bangsa ini kurang lengkap kalau belum melangkah ke yang ke Lima. Pancasila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa itu, Pertiwi tetap berduka dalam empat musim yang sama.
Cibubur, 14 Oktober 2026
Arturo GP
What's Your Reaction?