NIA Jadi Film Inspiratif 2025; Karya Ronny Mepet & Aditya Gumay

Tayang Nasional Kamis 4 Desember 2025

Nov 23, 2025 - 22:19
Nov 23, 2025 - 22:33
 0  63
NIA Jadi Film Inspiratif 2025; Karya Ronny Mepet & Aditya Gumay

Film NIA Menggetarkan Padang: Gala Premiere Penuh Haru di Basko City Mall

DemiFilm, Jakarta- Beberapa waktu lalu dari postingan sineasnya langsung Ronny Mepet yang berdarah Bugis dengan sang isteri dari Minang memposting Kamis 20 November 2025.

 Lorong-lorong XXI Basko City Mall tak seperti biasanya. Sejak menjelang Magrib, ratusan orang telah memadati area lobi, mengantre tiket, berfoto di depan backdrop film, dan bertemu dengan para pemain.

Antusiasme masyarakat Padang Pariaman dan Kota Padang pecah pada malam perdana penayangan film NIA, garapan Aditya Gumay dan Ronny Mepet, yang diproduseri oleh Ruben Onsu.

Kursi-kursi bioskop terisi penuh. Suasana tak hanya meriah—tetapi juga sarat haru. Di antara kerumunan itu, duduk seorang perempuan berhijab putih yang menjadi pusat perhatian: Bu Eli, ibu dari almarhumah Nia Kurnia Sari, sosok nyata yang kisah hidupnya diangkat ke layar lebar.

Kehadiran Tokoh Penting dan Aura Gala Premiere yang Menghangatkan Padang

Acara pemutaran perdana ini dihadiri oleh berbagai tokoh publik. Produser Ruben Onsu hadir langsung menyapa masyarakat, bersama sejumlah pemain film seperti Helsy Herlinda, Darak Badarak, hingga para pendukung film.

Pihak berwenang juga turut hadir, seperti Kapolres Padang Pariaman, AKBP Faisol Amir, beserta jajarannya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga karya yang menyuarakan kepedihan sebuah tragedi yang pernah mengguncang Sumatera Barat.

Pemilik Basko City Mall, Basrizal Koto, bersama keluarga dan manajemen mall seperti GM Robby Wiryawan terlihat menyambut tamu undangan. Bahkan Rektor Universitas Andalas, Prof. Efa Yonnedi, datang bersama istri, memberikan penghargaan terhadap film yang dianggap memiliki nilai sosial kuat.

Di tengah lampu sorot dan keramaian gala premiere, masyarakat—baik anak muda, keluarga, maupun warga Padang Pariaman yang pernah mengikuti perkembangan kasus Nia—berkumpul untuk menyaksikan kisah yang pernah menyayat hati publik itu.

Film yang Mengisahkan Luka Kolektif Masyarakat Pariaman

Film NIA diangkat dari kisah nyata Nia Kurnia Sari, seorang gadis penjual gorengan yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan pada 2024. Kasus tersebut sempat mengundang gelombang kemarahan publik yang masif, hingga memicu berbagai gerakan sosial dan doa bersama.

Pelaku utamanya—yang dikenal publik dengan nama “Indragon”—akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Pariaman. Keputusan itu menjadi simbol keadilan bagi keluarga Nia, sekaligus penegasan bahwa kekerasan terhadap perempuan tak bisa ditoleransi.

Film ini berupaya menyampaikan kembali kisah tersebut dari sudut yang lebih manusiawi. Alih-alih menonjolkan sisi kriminal, film ini lebih fokus pada kehidupan Nia, perjuangan seorang ibu yang sakit (Bu Eli), serta dinamika keluarga kecil yang berjuang hidup dengan penuh kesederhanaan.

Shakira Humaira, Helsy Herlinda, dan Para Pemain yang Menghidupkan Kisah Tragis Ini

Para aktor lokal dan nasional turut mengambil bagian dalam film ini. Shakira Humaira, aktris muda yang menjadi pemeran utama, mendapatkan banyak perhatian karena mampu menampilkan kesederhanaan dan ketegaran Nia.

Sementara itu, Helsy Herlinda, aktris senior berdarah Minang, memerankan sosok Ibu Eli dengan intensitas emosi yang menggetarkan. Meski dikenal publik sebagai “ratu antagonis,” pada film ini Helsy menunjukkan sisi lain: lembut, rapuh, dan penuh cinta.

Penampilan para pemain pendukung seperti Darak Badarak dan Zainal Chaniago memperkaya cerita dan memberi nuansa lokal Minangkabau yang kuat. Film ini juga semakin solid dengan arahan Aditya Gumay, sutradara yang dikenal kerap mengangkat kisah-kisah nyata ke layar lebar.

Ketika Tawa dan Air Mata Bertemu: Reaksi Penonton

Begitu film berakhir, suasana bioskop mendadak hening sebelum akhirnya dipecahkan oleh tepuk tangan panjang penonton. Banyak yang terlihat menyeka air mata, terutama pada adegan-adegan yang menggambarkan perjuangan Nia dan kesedihan seorang ibu yang tak berdaya.

Sejumlah penonton mengatakan bahwa mereka merasa seperti menyaksikan kembali berita yang dulu memenuhi linimasa, tetapi kali ini dengan kedalaman emosional yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Harapan di Balik Film: Mengingatkan, Mengedukasi, dan Menguatkan

Produser Ruben Onsu menegaskan bahwa film ini dibuat bukan untuk mengeksploitasi tragedi, tetapi untuk mengingatkan publik akan pentingnya perlindungan perempuan dan anak.

Sementara itu, kehadiran Bu Eli di gala premiere menjadi simbol kekuatan seorang ibu yang, meskipun kehilangan putrinya, tetap berdiri tegar dan merelakan kisahnya disampaikan kepada masyarakat.

“Ini untuk almarhum anak saya… supaya tidak ada lagi Nia berikutnya,” kata Bu Eli lirih.

Penutup: Film yang Menyentuh dan Menggetarkan Hati

Pemutaran perdana NIA di XXI Basko City Mall bukan sekadar acara nonton bersama. Ia menjadi pertemuan antara kenangan, luka, harapan, dan upaya kolektif untuk tidak melupakan tragedi yang pernah mengguncang satu daerah.

Lebih dari itu, NIA menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita tragis, ada manusia, keluarga, dan kisah hidup yang patut dihargai.

Film ini bukan hanya untuk ditonton.
Film ini untuk direnungkan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow